Mengenal 6 Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Muharram

Bulan Muharram datang dengan dua wajah. Di satu sisi, ia adalah "Syahrullah" (Bulan Allah) yang diselimuti kabut mistis kesucian, di sisi lain ia adalah panggung sejarah di mana air mata para syuhada bercampur dengan gelombang laut yang terbelah untuk menyelamatkan para nabi. Bagi umat Islam, memasuki bulan pertama dalam kalender Hijriah ini bukan sekadar pergantian angka tahun, melainkan sebuah perjalanan menelusuri lorong waktu yang penuh dengan ritual tangisan dan denting pedang, serta hamparan rahmat yang turun dari langit.


Dalam al-Qur'an, Allah berfirman bahwa empat bulan adalah bulan-bulan haram (suci), dan Muharram adalah salah satu di antaranya . Kemuliaan ini sudah diakui bahkan sejak masa jahiliyah, di mana peperangan dan pertumpahan darah diharamkan. Namun, ironi sejarah mencatat bahwa bulan yang "diharamkan untuk berperang" ini justru menyimpan memori kelam tentang pertempuran dan kesyahidan yang paling mengharu biru dalam peradaban Islam. Mari kita menari dalam pusaran waktu untuk menyaksikan peristiwa-peristiwa agung yang terukir di bulan Muharram.

1. Ombak Laut Merah dan Sejarah Puasa

Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau mendapati masyarakat Yahudi sedang berpuasa. Ketika ditanya alasannya, mereka menjawab, "Ini adalah hari yang agung, di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Nabi Musa AS berpuasa sebagai bentuk syukur". Peristiwa itu adalah 10 Muharram, atau yang dikenal sebagai Hari Asyura.

Mendengar itu, Rasulullah SAW pun bersabda, "Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian". Sejak saat itu, beliau berpuasa Asyura dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Sungai Nil dan Laut Merah mungkin telah tenang, tetapi gelombang sejarah peristiwa ini terus bergema hingga sekarang, menjadikan puasa Asyura sebagai salah satu ibadah paling mulia, yang konon menghapus dosa setahun yang lalu . Inilah "tarian syukur" yang diwariskan dari Nabi Musa kepada umat Muhammad.

2. Labuhnya Bahtera di Bukit Judi

Sebelum Musa, ada Nuh. Dalam banyak riwayat yang dihimpun para ulama, peristiwa besar lainnya di bulan Muharram adalah selamatnya Nabi Nuh AS dan kaumnya dari banjir bandang. Kapal besar yang sarat dengan muatan makhluk hidup itu akhirnya berlabuh dengan selamat di atas Bukit Judi.

Bayangkanlah pemandangan di puncak bukit itu setelah 40 hari badai dahsyat melanda. Pelangi muncul di ufuk timur, dan Nabi Nuh serta para pengikutnya menginjakkan kaki di tanah yang kokoh. Sebagai rasa syukur atas keselamatan itu, Nabi Nuh AS berpuasa. Dalam tradisi para ulama, 10 Muharram juga dikenang sebagai hari di mana bahtera itu berlabuh, memberikan pelajaran abadi tentang kesabaran dan pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang bertakwa.

 3. Kesunyian di Padang Karbala

Namun, tarian sejarah di bulan Muharram tidak selamanya gemulai dan penuh suka. Iramanya berubah menjadi hening yang mencekam, lalu meledak menjadi tangisan yang terdengar hingga ke seluruh penjuru dunia. Pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah (680 M), terjadi sebuah tragedi kemanusiaan yang memecah belah langit: Peristiwa Karbala.

Di padang pasir yang tandus, Imam Husain bin Ali, cucu kesayangan Rasulullah SAW, bersama 72 orang keluarganya dan sahabat setia, dibantai oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Mereka haus, mereka dikepung, dan akhirnya gugur satu per satu. Tubuh mungil bayi Ali Asghar tertusik panah, dan pedang melayang di leher sang Imam .

Jika bulan Muharram bagi sebagian besar Muslim Sunni adalah bulan untuk memperbanyak puasa sunnah, bagi komunitas Syiah, bulan ini adalah bulan berkabung. Mereka memperingati Asyura dengan ritual matam (meratap) dan tatbir (melukai diri) sebagai bentuk duka cita mendalam atas ketidakadilan yang menimpa Ahlul Bait . Darah Husain menjadi titik pemisah teologis yang abadi dalam sejarah Islam.

4. Taubatnya Manusia Pertama

Sebelum pedang berdarah dingin Yazid, sebelum bahtera Nuh, dan sebelum tongkat Musa, Muharram juga menjadi saksi bisu pertemuan antara manusia pertama dengan Penciptanya. Dikisahkan bahwa pada bulan ini, Allah SWT menerima taubat Nabi Adam AS setelah diturunkan dari surga ke bumi.

Bayangkan kesendirian Adam di bumi yang luas, menangisi kesalahan yang membuatnya terusir dari kenikmatan surga. Namun, pada hari Asyura, rahmat Allah turun. Adam dipercaya melaksanakan puasa sebagai ungkapan syukur atas diterimanya taubat tersebut. Ini adalah tarian ruhani yang mengajarkan bahwa di bulan yang mulia ini, pintu ampunan terbuka lebar bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya.

5. Hijrah dan Penetapan Tahun Baru

Meskipun peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah secara fisik terjadi pada bulan Rabiul Awal, namun momentum 1 Muharram ditetapkan sebagai awal Tahun Baru Hijriah. Keputusan ini diambil pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab melalui mekanisme musyawarah.

Sahabat Ali bin Abi Thalib RA mengusulkan agar penanggalan dimulai dari tahun hijrah, karena peristiwa ini adalah titik balik peradaban Islam dari tekanan di Mekkah menuju kebebasan membangun negara di Madinah . Mulai saat itulah, Muharram resmi menjadi "pintu gerbang" waktu bagi umat Islam sedunia.

6. Peristiwa Lain: Api yang Dingin dan Rahasia Raja

Selain peristiwa-peristiwa besar di atas, literatur klasik dan berbagai khazanah Islam (termasuk dalam kitab Mukasyafah al-Qulub karya Imam Ghazali) menyebutkan bahwa Muharram juga menjadi saksi berbagai keajaiban lain :
  • Nabi Ibrahim AS: Pada bulan inilah Allah SWT melepaskan Ibrahim dari bara api Raja Namrud yang membara, menjadikan api itu dingin dan penuh keselamatan.
  • Nabi Yusuf AS: Bulan Muharram juga menjadi bulan kebebasan bagi Yusuf AS dari penjara setelah sekian lama difitnah, membawanya menuju singgasana kerajaan Mesir.
  • Nabi Yaqub AS: Di bulan yang sama, Allah menyembuhkan kebutaan Nabi Yaqub, menyatukan kembali pelukannya dengan putranya, Yusuf, setelah berpisah puluhan tahun.
  • Nabi Yunus AS: Perut ikan paus yang sempit berubah menjadi ruang selamat bagi Nabi Yunus. Pada 10 Muharram, ia dikeluarkan ke daratan yang kering dalam keadaan selamat.
  • Nabi Daud, Sulaiman, dan Isa AS: Taubatnya Daud diterima, kekuasaan besar diberikan kepada Sulaiman, serta pengangkatan Nabi Isa AS ke langit juga dipercaya terjadi pada bulan yang mulia ini.
Kesimpulan: Antara Tradisi dan Modernitas

Hingga hari ini, denyut sejarah Muharram masih terasa. Di Indonesia, khususnya budaya Jawa, Muharram dikenal sebagai Bulan Suro. Masyarakat Jawa memiliki tradisi Tapa Bisu (menahan diri untuk tidak berbicara atau makan), Mubeng Benteng (mengelilingi keraton), serta Larangan untuk menggelar pesta pernikahan atau pindah rumah karena dianggap keramat atau "sial".

Padahal, jika merujuk pada akar sejarahnya, Muharram bukanlah bulan sial. Tragedi Karbala memang menyedihkan, tetapi umat Islam tidak diajarkan untuk menganggap suatu masa membawa kesialan. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Janganlah kalian mencela masa, karena sesungguhnya Allah adalah pencipta masa" (HR. Bukhari Muslim).

Muharram mengajarkan kita untuk "menari" maksudnya, bergerak lincah antara mengenang kesedihan (seperti perjuangan Husain) dan merayakan kemenangan (seperti selamatnya Musa). Ia adalah momentum introspeksi, memperbanyak puasa sunnah, serta meneladani kesabaran para nabi dan kegigihan para syuhada. Selamat menapaki tahun baru Islam, semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat di bulan yang mulia ini.