Sejarah Kemunculan Gerakan Wahabi dalam Aliran Islam
Gerakan Wahabi merupakan salah satu gerakan pemurnian Islam yang muncul pada abad ke-18 Masehi di wilayah Najd, Arabia Tengah. Gerakan ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan pemikiran Islam modern, terutama dalam aspek teologi dan praktik keagamaan.
Artikel ini akan mengulas secara komprehensif sejarah kemunculan gerakan Wahabi, mulai dari latar belakang sosial-politik yang melatarbelakanginya, biografi tokoh utamanya, hingga penyebarannya ke berbagai wilayah termasuk Nusantara.
Latar Belakang Kemunculan Gerakan Wahabi
Latar Belakang Kemunculan Gerakan Wahabi
Kemunculan gerakan Wahabi tidak dapat dipisahkan dari situasi kemunduran yang melanda dunia Islam pada abad ke-18. Setelah kejatuhan Baghdad tahun 1258 M dan kehilangan Andalusia, umat Islam mengalami kemunduran yang sangat serius dan meluas dalam berbagai lapangan kehidupan, baik keagamaan maupun politik dan peradaban.
Pada masa ini, tiga kerajaan besar Islam Dinasti Utsmani di Turki, Safawi di Persia, dan Mughal di India mengalami kemunduran. Kondisi ini diperparah dengan meluasnya praktik-praktik keagamaan yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam yang murni, seperti :
Kondisi Jazirah Arab Sebelum Gerakan Wahabi
Kondisi di Jazirah Arab, khususnya wilayah Najd, pada masa itu sangat memprihatinkan. Kemerosotan akidah, akhlak, tata nilai sosial, ekonomi, dan politik terjadi akibat penjajahan bangsa Turki yang berkepanjangan terhadap Semenanjung Arab. Dalam kehidupan keagamaan, berbagai praktik pra-Islam kembali muncul di kalangan masyarakat Arab, termasuk :
Muhammad bin Abdul Wahhab lahir di kota Uyainah, wilayah Najd (kini bagian dari Arab Saudi), pada tahun 1703 Masehi (1115 Hijriyah). Ia lahir dalam keluarga terpelajar yang menganut mazhab Hanbali. Ayahnya, Abdul Wahhab bin Sulaiman, adalah seorang hakim dan ulama ternama di kota Uyainah, sementara kakeknya juga menjabat sebagai mufti besar bagi masyarakat yang menanyakan permasalahan agama.
Sejak usia dini, Muhammad bin Abdul Wahhab telah menunjukkan kecerdasan luar biasa. Ia berhasil menghafal Al-Qur'an sebelum berusia 10 tahun dan dididik langsung oleh ayahnya dalam berbagai disiplin ilmu agama.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Setelah dewasa, Muhammad bin Abdul Wahhab melakukan perjalanan ke berbagai pusat keilmuan Islam untuk memperdalam pengetahuannya. Ia pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian melanjutkan perjalanan ke Madinah untuk menuntut ilmu. Di Madinah, ia berguru kepada dua ulama besar, yaitu Syeikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif An-Najdi dan Syeikh Muhammad Hayah Al-Sindi.
Pada masa ini, tiga kerajaan besar Islam Dinasti Utsmani di Turki, Safawi di Persia, dan Mughal di India mengalami kemunduran. Kondisi ini diperparah dengan meluasnya praktik-praktik keagamaan yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam yang murni, seperti :
- Maraknya praktik kemusyrikan dan bid'ah
- Penyebaran takhayul (khurafat) di kalangan masyarakat
- Praktik tasawuf yang semakin meluas dan dinilai memperlemah semangat umat
- Meluasnya praktik taklid (ketaatan buta) dan tertutupnya pintu ijtihad
- Konflik Sunni-Syiah yang semakin memanas
Kondisi Jazirah Arab Sebelum Gerakan Wahabi
Kondisi di Jazirah Arab, khususnya wilayah Najd, pada masa itu sangat memprihatinkan. Kemerosotan akidah, akhlak, tata nilai sosial, ekonomi, dan politik terjadi akibat penjajahan bangsa Turki yang berkepanjangan terhadap Semenanjung Arab. Dalam kehidupan keagamaan, berbagai praktik pra-Islam kembali muncul di kalangan masyarakat Arab, termasuk :
- Praktik pemujaan terhadap makam-makam keramat
- Keyakinan terhadap kekuatan gaib para wali dan syekh
- Praktik memohon syafaat kepada selain Allah
- Berbagai ritual yang dianggap sebagai bid'ah dan takhayul
Muhammad bin Abdul Wahhab lahir di kota Uyainah, wilayah Najd (kini bagian dari Arab Saudi), pada tahun 1703 Masehi (1115 Hijriyah). Ia lahir dalam keluarga terpelajar yang menganut mazhab Hanbali. Ayahnya, Abdul Wahhab bin Sulaiman, adalah seorang hakim dan ulama ternama di kota Uyainah, sementara kakeknya juga menjabat sebagai mufti besar bagi masyarakat yang menanyakan permasalahan agama.
Sejak usia dini, Muhammad bin Abdul Wahhab telah menunjukkan kecerdasan luar biasa. Ia berhasil menghafal Al-Qur'an sebelum berusia 10 tahun dan dididik langsung oleh ayahnya dalam berbagai disiplin ilmu agama.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Setelah dewasa, Muhammad bin Abdul Wahhab melakukan perjalanan ke berbagai pusat keilmuan Islam untuk memperdalam pengetahuannya. Ia pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian melanjutkan perjalanan ke Madinah untuk menuntut ilmu. Di Madinah, ia berguru kepada dua ulama besar, yaitu Syeikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif An-Najdi dan Syeikh Muhammad Hayah Al-Sindi.
Selama di Madinah, ia menyaksikan berbagai praktik yang dinilai menyimpang, seperti masyarakat yang berziarah ke makam Nabi Muhammad dan makam-makam lainnya untuk memohon syafaat dan meminta hajat. Setelah beberapa waktu di Madinah, ia melanjutkan perjalanan ke Basrah (Irak) dan Persia, di mana ia bermukim lebih lama dan mendalami berbagai ilmu, terutama hadis, fikih, ushul fikih, dan bahasa Arab.
Pengaruh Pemikiran Ibnu Taimiyah
Dalam perjalanan intelektualnya, Muhammad bin Abdul Wahhab sangat terpengaruh oleh pemikiran Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah (wafat 1328 M), seorang ulama besar dari mazhab Hanbali yang hidup pada abad ke-13-14 Masehi. Ibnu Taimiyah dikenal sebagai tokoh yang menyerukan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah serta membersihkan Islam dari berbagai praktik yang dianggapnya sebagai bid'ah dan penyimpangan.
Pengaruh Ibnu Taimiyah begitu kuat dalam jiwa Muhammad bin Abdul Wahhab, sehingga banyak pengamat yang melihatnya sebagai "salinan" Ibnu Taimiyah, khususnya dalam aspek ketauhidan. Karen Armstrong, dalam bukunya Sejarah Islam, menyatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab percaya bahwa krisis yang dihadapi Islam pada masa itu paling baik dihadapi dengan kembali secara fundamental kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Awal Mula Dakwah
Muhammad bin Abdul Wahhab memulai dakwahnya di Basrah, tempat ia bermukim untuk menuntut ilmu. Namun, dakwahnya di sana kurang bersinar karena mendapat banyak rintangan dan halangan dari kalangan ulama setempat. Ia bersama pendukungnya mendapat tekanan dan ancaman pembunuhan, yang menyebabkan ia meninggalkan Basrah dan mengembara ke beberapa negeri Islam.
Setelah menjelajahi beberapa negeri Islam, ia kembali ke Al-Ihsa menemui gurunya, Syeikh Abdullah bin Abdul Latif Al-Ihsai, untuk mendalami beberapa bidang pengajian tertentu. Kemudian, ia kembali ke kampung asalnya, Uyainah.
Dakwah di Uyainah dan Dukungan Awal
Sesampainya di Uyainah, Muhammad bin Abdul Wahhab mulai menyebarkan ajarannya. Pada waktu itu, Uyainah diperintah oleh Amir Utsman bin Mu'ammar, yang menyambut baik gagasan Muhammad bin Abdul Wahhab dan berjanji akan menolong perjuangannya. Dengan dukungan penguasa setempat, Muhammad bin Abdul Wahhab mulai melakukan reformasi keagamaan di Uyainah, termasuk :
Hijrah ke Dir'iyah dan Perjanjian dengan Muhammad bin Saud
Setelah diusir dari Uyainah, Muhammad bin Abdul Wahhab hijrah ke kota tetangga, Dir'iyah, yang diperintah oleh Muhammad bin Saud. Pada tahun 1744 M (1157 H), terjalinlah perjanjian bersejarah antara Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud. Adapun isi perjanjian tersebut adalah :
Ajaran Pokok Gerakan Wahabi
Ajaran utama yang dibawa Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pemurnian tauhid. Beberapa poin pokok ajarannya tentang tauhid antara lain :
Gerakan Wahabi secara tegas menolak berbagai praktik yang dianggapnya sebagai penyimpangan, termasuk hal-hal sebagai berikut :
Metode Dakwah dan Jihad
Dalam menyebarkan ajarannya, Muhammad bin Abdul Wahhab menggunakan pendekatan yang tegas. Menurut Fazlur Rahman, gerakan dakwah Ibnu Abdul Wahhab di masa hidupnya melahirkan kekerasan dan penggunaan kekuatan militer yang besar. Himbauan untuk melaksanakan pembaharuan ini dilakukan lewat kekuatan bersenjata (jihad) jika perlu.
Namun, menurut catatan lain, Muhammad bin Abdul Wahhab juga menekankan pentingnya pendidikan dan dialog. Ia memberlakukan doktrin 'udhr bil jahl (uzur karena ketidaktahuan), di mana setiap orang yang tidak mengetahui ajaran Islam harus diberi kesempatan untuk memahami terlebih dahulu.
Perkembangan dan Ekspansi Gerakan Wahabi
Dengan dukungan militer dari keluarga Saud, gerakan Wahabi mulai meluas secara militer dari Najd ke Hijaz. Kota suci Mekkah dan Madinah pun jatuh ke kekuasaan Wahabi. Dalam ekspansi ini, mereka melakukan berbagai tindakan kontroversial seperti :
Ekspansi Wahabi menimbulkan kekhawatiran Kekaisaran Utsmani yang saat itu menjadi kekuatan utama dunia Islam. Ketika berupaya melepaskan diri dari kekuasaan Utsmani yang berpusat di Istanbul, Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan bahwa Sultan Utsmani tidak sejalan dengan visinya tentang Islam yang benar, sehingga mereka dianggap murtad dan layak dihukum mati.
Pasukan Utsmani yang dipimpin oleh Muhammad Ali Pasha dari Mesir akhirnya berhasil mengusir pasukan Wahabi dari Hijaz dan menghancurkan kekuatan mereka. Namun, keturunan keluarga Saud kemudian merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya.
Berdirinya Kerajaan Arab Saudi
Setelah melalui berbagai pasang surut, keturunan keluarga Saud berhasil mendirikan Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1932. Kerajaan ini didasarkan pada "cita-cita Wahabi" dan menjadikan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai ideologi resmi negara.
Antropolog Akbar S Ahmed mencatat bahwa meskipun penduduk Arab Saudi relatif sedikit (sekitar sepuluh juta jiwa), pengaruhnya sangat besar karena dua faktor utama : penghasilan sumber minyaknya dan perannya sebagai penjaga kota-kota suci Mekkah dan Madinah.
Penyebaran Wahabi ke Nusantara
Pengaruh Wahabi masuk ke Nusantara melalui kepulangan tiga orang haji dari Sumatera Barat yang baru pulang ibadah haji pada tahun 1803. Perjalanan haji mereka bersamaan dengan dikuasainya Mekkah oleh kaum Wahabi, sehingga cukup beralasan jika mereka Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang dianggap dipengaruhi ajaran-ajaran Wahabi. Pengaruh ini terlihat dari penentangan mereka terhadap hal-hal berikut ini :
Intervensi Belanda dan Akhir Perang Paderi
Perang saudara di Minangkabau ini kemudian menarik campur tangan kolonial Belanda. Dengan alasan untuk mengamankan kepentingan ekonomi dan politik mereka, Belanda turut campur dalam konflik ini. Perang Paderi akhirnya berakhir pada penghujung tahun 1830-an.
Respons Ulama Nusantara
Pada tahun 1920-an, isu Wahabi muncul kembali dalam wacana keislaman di Nusantara ketika kekuasaan Wahabi-Saudi bangkit lagi dan kembali menguasai Mekkah dan Madinah. Kaum Muslimin Indonesia merasa khawatir dan menganggap "gawat kalau begini", sehingga para ulama Indonesia membentuk Komite Hijaz pada tahun 1924.
Komite ini terdiri dari Muhammadiyah dan kiai-kiai dari pesantren. Mereka kemudian mengirim utusan ke Mekkah dan Madinah untuk meminta kepada penguasa baru di Hijaz supaya tidak memaksakan paham Wahabi. Pemerintah Saudi mendengarkan sehingga tidak terjadi penggusuran paham non-Wahabi. Para jamaah haji tetap bisa mempraktekkan Islam yang oleh Wahabi dianggap tidak sesuai.
Komite Hijaz ini juga menjadi salah satu cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan pada tahun 1926.
Kontroversi Seputar Penamaan
Para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab tidak menyukai istilah "Wahabi" yang disematkan kepada mereka. Mereka menolak penyematan nama individu, termasuk menggunakan nama seseorang untuk menamai aliran mereka. Mereka lebih memilih menyebut diri mereka dengan berbagai nama seperti :
Asal-usul Istilah Wahabi
Menurut sejumlah penulis, yang pertama kali memberikan julukan "Wahabi" kepada dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab adalah Kesultanan Utsmaniyah, kemudian bangsa Inggris mengadopsi dan menggunakannya di Timur Tengah.
Ada juga yang menghubungkan istilah ini dengan Abdul Wahhab bin Rustum, seorang tokoh Khawarij di Maroko yang lahir jauh sebelum Muhammad bin Abdul Wahhab. Namun, para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab menegaskan bahwa ajaran mereka sangat berbeda dengan ajaran Khawarij.
Kritik dan Penilaian terhadap Gerakan Wahabi
Gerakan Wahabi tidak luput dari kritik, baik pada masa hidup Muhammad bin Abdul Wahhab maupun setelahnya. Beberapa kritik yang dilontarkan antara lain :
Penilaian tentang Kekerasan dan Terorisme
Polemik tentang hubungan Wahabi dengan kekerasan dan terorisme terus berlangsung hingga saat ini. Seperti dikatakan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Agil Siraj, "Wahabi bukan teroris, Wahabi antiteror tetapi ajarannya satu digit lagi jadi teroris".
Dalam perkembangannya, menurut Karen Armstrong, "teknik agresifnya (Muhammad bin Abdul Wahhab) akan digunakan oleh beberapa fundamentalis pada abad kedua puluh, periode perubahan dan kerusuhan yang bahkan lebih besar".
Kesimpulan
Gerakan Wahabi muncul sebagai respons terhadap kondisi kemunduran dunia Islam pada abad ke-18, dengan latar belakang sosial-politik yang kompleks. Dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama dari Najd yang terpengaruh pemikiran Ibnu Taimiyah, gerakan ini mengusung pemurnian tauhid dan penolakan terhadap berbagai praktik yang dianggap sebagai bid'ah dan syirik.
Aliansi antara Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Muhammad bin Saud pada tahun 1744 menjadi fondasi bagi berdirinya Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1932, yang menjadikan ajaran Wahabi sebagai ideologi resmi negara. Melalui berbagai jalur, termasuk melalui para haji yang kembali ke Nusantara, pengaruh Wahabi menyebar hingga ke Indonesia dan memicu gerakan Paderi di Sumatera Barat pada awal abad ke-19.
Hingga saat ini, gerakan Wahabi tetap menjadi salah satu aliran pemikiran yang berpengaruh dalam Islam, sekaligus menjadi subjek perdebatan dan kritik dari berbagai kalangan. Pemahaman yang komprehensif tentang sejarah kemunculannya penting untuk melihat dinamika pemikiran Islam modern secara lebih utuh.
Pengaruh Pemikiran Ibnu Taimiyah
Dalam perjalanan intelektualnya, Muhammad bin Abdul Wahhab sangat terpengaruh oleh pemikiran Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah (wafat 1328 M), seorang ulama besar dari mazhab Hanbali yang hidup pada abad ke-13-14 Masehi. Ibnu Taimiyah dikenal sebagai tokoh yang menyerukan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah serta membersihkan Islam dari berbagai praktik yang dianggapnya sebagai bid'ah dan penyimpangan.
Pengaruh Ibnu Taimiyah begitu kuat dalam jiwa Muhammad bin Abdul Wahhab, sehingga banyak pengamat yang melihatnya sebagai "salinan" Ibnu Taimiyah, khususnya dalam aspek ketauhidan. Karen Armstrong, dalam bukunya Sejarah Islam, menyatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab percaya bahwa krisis yang dihadapi Islam pada masa itu paling baik dihadapi dengan kembali secara fundamental kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Awal Mula Dakwah
Muhammad bin Abdul Wahhab memulai dakwahnya di Basrah, tempat ia bermukim untuk menuntut ilmu. Namun, dakwahnya di sana kurang bersinar karena mendapat banyak rintangan dan halangan dari kalangan ulama setempat. Ia bersama pendukungnya mendapat tekanan dan ancaman pembunuhan, yang menyebabkan ia meninggalkan Basrah dan mengembara ke beberapa negeri Islam.
Setelah menjelajahi beberapa negeri Islam, ia kembali ke Al-Ihsa menemui gurunya, Syeikh Abdullah bin Abdul Latif Al-Ihsai, untuk mendalami beberapa bidang pengajian tertentu. Kemudian, ia kembali ke kampung asalnya, Uyainah.
Dakwah di Uyainah dan Dukungan Awal
Sesampainya di Uyainah, Muhammad bin Abdul Wahhab mulai menyebarkan ajarannya. Pada waktu itu, Uyainah diperintah oleh Amir Utsman bin Mu'ammar, yang menyambut baik gagasan Muhammad bin Abdul Wahhab dan berjanji akan menolong perjuangannya. Dengan dukungan penguasa setempat, Muhammad bin Abdul Wahhab mulai melakukan reformasi keagamaan di Uyainah, termasuk :
- Penghancuran makam Zaid bin Al-Khattab (salah satu sahabat Nabi Muhammad)
- Pelaksanaan hukuman rajam terhadap seorang perempuan pezina yang mengaku
- Penegakan berbagai aturan syariat
Hijrah ke Dir'iyah dan Perjanjian dengan Muhammad bin Saud
Setelah diusir dari Uyainah, Muhammad bin Abdul Wahhab hijrah ke kota tetangga, Dir'iyah, yang diperintah oleh Muhammad bin Saud. Pada tahun 1744 M (1157 H), terjalinlah perjanjian bersejarah antara Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud. Adapun isi perjanjian tersebut adalah :
- Muhammad bin Saud akan melindungi dan menyebarkan ajaran-ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab.
- Muhammad bin Abdul Wahhab akan mendukung penguasa dan memberinya "kekuatan dan kemuliaan".
- Siapa pun yang memperjuangkan ajarannya, janji Muhammad bin Abdul Wahhab, akan "memerintah negeri dan manusia".
Ajaran Pokok Gerakan Wahabi
Ajaran utama yang dibawa Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pemurnian tauhid. Beberapa poin pokok ajarannya tentang tauhid antara lain :
- Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah; orang yang menyembah selain Allah dianggap musyrik
- Meminta pertolongan kepada syekh, wali, atau kekuatan gaib dianggap sebagai kesyirikan
- Menyebut nama Nabi, syekh, atau malaikat sebagai perantara dalam doa dianggap syirik
- Meminta syafaat selain kepada Allah dianggap syirik
- Bernazar selain kepada Allah dianggap syirik
Gerakan Wahabi secara tegas menolak berbagai praktik yang dianggapnya sebagai penyimpangan, termasuk hal-hal sebagai berikut :
- Pemujaan terhadap makam para wali dan orang saleh
- Praktik tawasul (menjadikan perantara) dalam berdoa
- Taklid buta terhadap mazhab-mazhab klasik
- Berbagai ritual yang dianggap bid'ah dan khurafat
Metode Dakwah dan Jihad
Dalam menyebarkan ajarannya, Muhammad bin Abdul Wahhab menggunakan pendekatan yang tegas. Menurut Fazlur Rahman, gerakan dakwah Ibnu Abdul Wahhab di masa hidupnya melahirkan kekerasan dan penggunaan kekuatan militer yang besar. Himbauan untuk melaksanakan pembaharuan ini dilakukan lewat kekuatan bersenjata (jihad) jika perlu.
Namun, menurut catatan lain, Muhammad bin Abdul Wahhab juga menekankan pentingnya pendidikan dan dialog. Ia memberlakukan doktrin 'udhr bil jahl (uzur karena ketidaktahuan), di mana setiap orang yang tidak mengetahui ajaran Islam harus diberi kesempatan untuk memahami terlebih dahulu.
Perkembangan dan Ekspansi Gerakan Wahabi
Dengan dukungan militer dari keluarga Saud, gerakan Wahabi mulai meluas secara militer dari Najd ke Hijaz. Kota suci Mekkah dan Madinah pun jatuh ke kekuasaan Wahabi. Dalam ekspansi ini, mereka melakukan berbagai tindakan kontroversial seperti :
- Penghancuran makam-makam yang dianggap dikeramatkan
- Pada tahun 1803, penyerangan terhadap makam Husein (cucu Nabi Muhammad) di Karbala (kini wilayah Irak)
- Pembongkaran kubah kuburan Nabi Muhammad di Madinah
Ekspansi Wahabi menimbulkan kekhawatiran Kekaisaran Utsmani yang saat itu menjadi kekuatan utama dunia Islam. Ketika berupaya melepaskan diri dari kekuasaan Utsmani yang berpusat di Istanbul, Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan bahwa Sultan Utsmani tidak sejalan dengan visinya tentang Islam yang benar, sehingga mereka dianggap murtad dan layak dihukum mati.
Pasukan Utsmani yang dipimpin oleh Muhammad Ali Pasha dari Mesir akhirnya berhasil mengusir pasukan Wahabi dari Hijaz dan menghancurkan kekuatan mereka. Namun, keturunan keluarga Saud kemudian merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya.
Berdirinya Kerajaan Arab Saudi
Setelah melalui berbagai pasang surut, keturunan keluarga Saud berhasil mendirikan Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1932. Kerajaan ini didasarkan pada "cita-cita Wahabi" dan menjadikan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai ideologi resmi negara.
Antropolog Akbar S Ahmed mencatat bahwa meskipun penduduk Arab Saudi relatif sedikit (sekitar sepuluh juta jiwa), pengaruhnya sangat besar karena dua faktor utama : penghasilan sumber minyaknya dan perannya sebagai penjaga kota-kota suci Mekkah dan Madinah.
Penyebaran Wahabi ke Nusantara
Pengaruh Wahabi masuk ke Nusantara melalui kepulangan tiga orang haji dari Sumatera Barat yang baru pulang ibadah haji pada tahun 1803. Perjalanan haji mereka bersamaan dengan dikuasainya Mekkah oleh kaum Wahabi, sehingga cukup beralasan jika mereka Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang dianggap dipengaruhi ajaran-ajaran Wahabi. Pengaruh ini terlihat dari penentangan mereka terhadap hal-hal berikut ini :
- Praktik bid'ah
- Penggunaan tembakau (baik untuk sirih pinang maupun merokok)
- Pemakaian baju sutra
Intervensi Belanda dan Akhir Perang Paderi
Perang saudara di Minangkabau ini kemudian menarik campur tangan kolonial Belanda. Dengan alasan untuk mengamankan kepentingan ekonomi dan politik mereka, Belanda turut campur dalam konflik ini. Perang Paderi akhirnya berakhir pada penghujung tahun 1830-an.
Respons Ulama Nusantara
Pada tahun 1920-an, isu Wahabi muncul kembali dalam wacana keislaman di Nusantara ketika kekuasaan Wahabi-Saudi bangkit lagi dan kembali menguasai Mekkah dan Madinah. Kaum Muslimin Indonesia merasa khawatir dan menganggap "gawat kalau begini", sehingga para ulama Indonesia membentuk Komite Hijaz pada tahun 1924.
Komite ini terdiri dari Muhammadiyah dan kiai-kiai dari pesantren. Mereka kemudian mengirim utusan ke Mekkah dan Madinah untuk meminta kepada penguasa baru di Hijaz supaya tidak memaksakan paham Wahabi. Pemerintah Saudi mendengarkan sehingga tidak terjadi penggusuran paham non-Wahabi. Para jamaah haji tetap bisa mempraktekkan Islam yang oleh Wahabi dianggap tidak sesuai.
Komite Hijaz ini juga menjadi salah satu cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan pada tahun 1926.
Kontroversi Seputar Penamaan
Para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab tidak menyukai istilah "Wahabi" yang disematkan kepada mereka. Mereka menolak penyematan nama individu, termasuk menggunakan nama seseorang untuk menamai aliran mereka. Mereka lebih memilih menyebut diri mereka dengan berbagai nama seperti :
- Salafi (orang-orang yang mengikuti jejak generasi salaf)
- Muwahhidun (orang-orang yang mengesakan Allah)
- Ahlul Hadits (orang-orang yang berpegang pada hadits)
- Al-Muslimun (orang-orang yang berserah diri kepada Allah)
Asal-usul Istilah Wahabi
Menurut sejumlah penulis, yang pertama kali memberikan julukan "Wahabi" kepada dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab adalah Kesultanan Utsmaniyah, kemudian bangsa Inggris mengadopsi dan menggunakannya di Timur Tengah.
Ada juga yang menghubungkan istilah ini dengan Abdul Wahhab bin Rustum, seorang tokoh Khawarij di Maroko yang lahir jauh sebelum Muhammad bin Abdul Wahhab. Namun, para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab menegaskan bahwa ajaran mereka sangat berbeda dengan ajaran Khawarij.
Kritik dan Penilaian terhadap Gerakan Wahabi
Gerakan Wahabi tidak luput dari kritik, baik pada masa hidup Muhammad bin Abdul Wahhab maupun setelahnya. Beberapa kritik yang dilontarkan antara lain :
- Mengabaikan sejarah, monumen, dan tradisi Islam
- Tidak menghormati kesucian kehidupan Muslim
- Sikap takfiri (mengkafirkan) yang berlebihan
- Memunculkan kekakuan dalam beragama
Penilaian tentang Kekerasan dan Terorisme
Polemik tentang hubungan Wahabi dengan kekerasan dan terorisme terus berlangsung hingga saat ini. Seperti dikatakan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Agil Siraj, "Wahabi bukan teroris, Wahabi antiteror tetapi ajarannya satu digit lagi jadi teroris".
Dalam perkembangannya, menurut Karen Armstrong, "teknik agresifnya (Muhammad bin Abdul Wahhab) akan digunakan oleh beberapa fundamentalis pada abad kedua puluh, periode perubahan dan kerusuhan yang bahkan lebih besar".
Kesimpulan
Gerakan Wahabi muncul sebagai respons terhadap kondisi kemunduran dunia Islam pada abad ke-18, dengan latar belakang sosial-politik yang kompleks. Dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama dari Najd yang terpengaruh pemikiran Ibnu Taimiyah, gerakan ini mengusung pemurnian tauhid dan penolakan terhadap berbagai praktik yang dianggap sebagai bid'ah dan syirik.
Aliansi antara Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Muhammad bin Saud pada tahun 1744 menjadi fondasi bagi berdirinya Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1932, yang menjadikan ajaran Wahabi sebagai ideologi resmi negara. Melalui berbagai jalur, termasuk melalui para haji yang kembali ke Nusantara, pengaruh Wahabi menyebar hingga ke Indonesia dan memicu gerakan Paderi di Sumatera Barat pada awal abad ke-19.
Hingga saat ini, gerakan Wahabi tetap menjadi salah satu aliran pemikiran yang berpengaruh dalam Islam, sekaligus menjadi subjek perdebatan dan kritik dari berbagai kalangan. Pemahaman yang komprehensif tentang sejarah kemunculannya penting untuk melihat dinamika pemikiran Islam modern secara lebih utuh.
