Merentas Waktu: Menyelami Gemilang Peradaban Nusantara
Ketika kita berbicara tentang peradaban Nusantara, kita tidak sedang membicarakan sebuah entitas tunggal yang seragam. Istilah Nusantara, yang berasal dari bahasa Jawa Kuno nusa (pulau) dan antara (di antara), pertama kali dikenal melalui konsep Dvipantara pada tahun 1275 yang dicetuskan oleh Raja Kertanegara dari Singhasari. Konsep ini kemudian diabadikan dalam Sumpah Palapa oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit pada tahun 1336 untuk menyebut wilayah kepulauan di luar pengaruh Jawa.
Sebagai kerajaan bercorak Hindu tertua, Kutai memberikan gambaran awal tentang struktur masyarakat terpelajar. Raja Mulawarman, cucu dari Kudungga, digambarkan sebagai raja yang sangat dermawan, pernah mengadakan kurban emas dan 20.000 ekor sapi untuk para Brahmana. Tradisi upacara pemujaan ini menunjukkan agama Siwa telah berkembang pesat di istana.
2. Kerajaan Tarumanegara (Jawa Barat)
Hampir sezaman dengan Kutai, di Jawa Barat berkuasa Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara (abad ke-5 M). Kehebatan peradaban Tarumanegara terukir dalam Prasasti Tugu, yang menyebutkan proyek besar penggalian Sungai Gomati dan Candrabhaga sepanjang 11 kilometer hanya dalam 21 hari. Proyek infrastruktur ini bertujuan mencegah banjir dan mengairi sawah, membuktikan bahwa teknologi hidrologi dan pengelolaan sumber daya air sudah sangat maju pada masanya. Prasasti-prasasti lain seperti Ciaruteun, yang menampilkan tapak kaki Raja Purnawarman disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu, menunjukkan konsep ketuhanan raja (devaraja) telah dikenal.
3. Kerajaan Sriwijaya (Sumatera)
Beralih ke abad ke-7 hingga ke-13, muncullah penguasa maritim terbesar di Asia Tenggara: Sriwijaya. Berpusat di Palembang, kerajaan ini menguasai jalur perdagangan Selat Malaka yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan. Namun, kejayaan Sriwijaya tidak hanya diukur dari luasnya wilayah, melainkan juga sebagai pusat pembelajaran agama Buddha Mahayana. I-Tsing, seorang biksu dari Tiongkok, mencatat bahwa banyak biksu yang tinggal di Sriwijaya selama bertahun-tahun untuk menerjemahkan kitab suci dan belajar bahasa Sanskerta sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Penguasaan jalur laut ini juga menghubungkan Nusantara dengan Kepulauan Rempah-Rempah di Maluku, menunjukkan jaringan ekonomi yang sangat luas.
4. Kerajaan Kalingga (Jawa Tengah)
Di pesisir utara Jawa Tengah, berdiri Kerajaan Kalingga (Holing) pada abad ke-7. Kerajaan ini terkenal karena kepemimpinannya yang tegas di bawah Ratu Sima. Rakyatnya dikenal sangat jujur karena peraturan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Catatan dari Tiongkok juga menyebutkan bahwa pendeta Buddha dari Tiongkok datang ke Kalingga untuk menerjemahkan kitab suci agama Buddha.
C. Puncak Kejayaan: Sinkretisme dan Warisan Abadi
Peradaban Nusantara mencapai puncaknya pada era Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dan kemudian dilanjutkan oleh Majapahit di Jawa Timur.
Mataram Kuno (abad ke-8 hingga ke-10) mewariskan monumen peradaban yang tak tertandingi: Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia, dibangun oleh Wangsa Syailendra dengan arsitektur yang mencerminkan kosmologi Buddha. Relief-reliefnya yang dipahatkan pada dinding candi bukan sekadar cerita agama, tetapi juga "buku" yang merekam kehidupan masyarakat, kapal dagang, dan aktivitas keseharian pada masa itu.
Sementara itu, Majapahit (abad ke-13 hingga ke-16) di bawah Mahapatih Gajah Mada berhasil menyatukan hampir seluruh Nusantara dalam Sumpah Palapa-nya. Karya sastra agung seperti Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca menjadi bukti tingginya tradisi intelektual dan literasi. Naskah ini tidak hanya menceritakan kebesaran Raja Hayam Wuruk, tetapi juga menggambarkan struktur pemerintahan, hukum, dan wilayah kekuasaan Majapahit.
Kearifan lokal juga terpelihara dalam berbagai manuskrip kuno, seperti koleksi lontar dan serat di Museum Sonobudoyo. Naskah-naskah ini mencakup ajaran moral, pengobatan tradisional, hingga primbon, menunjukkan bahwa literasi dan sistem pengetahuan telah mengakar kuat di masyarakat.
D. Kontroversi dan Narasi Alternatif
Meskipun narasi sejarah umum menempatkan Kutai dan Tarumanegara sebagai yang tertua, terdapat sumber lain yang menawarkan perspektif berbeda. Naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta pada abad ke-17 menyebutkan adanya Kerajaan Salakanagara di Jawa Barat yang berdiri jauh sebelumnya, sekitar abad ke-2 Masehi.
Menurut naskah ini, Salakanagara adalah kerajaan perintis yang kemudian berkembang menjadi Tarumanegara. Tokoh-tokohnya, seperti Dewawarman, disebut sebagai duta dari India yang menikahi putri kepala lokal. Meskipun kontroversial dan belum sepenuhnya diterima oleh para sejarawan karena kurangnya bukti arkeologis yang kuat, naskah Wangsakerta membuka wawasan tentang kompleksitas dan kemungkinan adanya lapisan peradaban yang lebih tua dari yang selama ini kita kenal.
Kesimpulan
Peradaban Nusantara adalah bukti nyata bahwa bangsa ini bukan sekadar penonton dalam arus sejarah dunia. Sejak abad ke-4, nenek moyang kita telah membangun tatanan negara yang terstruktur, mengembangkan teknologi pengairan yang maju, menguasai jalur perdagangan internasional, dan menjadi pusat pembelajaran agama. Kehebatan ini lahir dari kemampuan luar biasa dalam mengadaptasi pengaruh luar (seperti Hindu-Buddha dari India) dan mengolahnya dengan kearifan lokal, melahirkan sinkretisme budaya yang unik dan agung.
Secara geografis dan kultural, Nusantara merujuk pada gugusan pulau di Asia Tenggara yang menjadi saksi bisu lahir, tumbuh, dan runtuhnya berbagai peradaban besar dengan dinamika dan keunikannya sendiri.
A. Fajar Peradaban: Jejak Awal dan Pengaruh Luar
Peradaban Nusantara tidak lahir dalam ruang hampa. Jauh sebelum prasasti pertama diukir, nenek moyang bangsa Indonesia telah mengarungi lautan dan membangun pemukiman. Memasuki abad pertama Masehi, posisi strategis Nusantara di jalur perdagangan internasional antara India dan Tiongkok membuka pintu akulturasi budaya. Para pedagang yang singgah tidak hanya membawa komoditas, tetapi juga membawa pengaruh agama, politik, dan teknologi dari peradaban besar dunia.
Pengaruh Hindu-Buddha dari India menjadi gelombang peradaban pertama yang terekam jelas. Proses ini menandai babak baru sejarah Indonesia, di mana masyarakat lokal yang semula mengenal sistem kepemimpinan suku mulai bertransformasi membentuk struktur kerajaan yang lebih kompleks.
Bukti tertulis tertua tentang keberadaan peradaban di Nusantara adalah Prasasti Yupa, yang ditemukan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Prasasti dari abad ke-4 Masehi ini ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta, menandai dimulainya periode sejarah di Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadli Zon bahkan menyebut Yupa sebagai "bukti keluhuran tertua Nusantara" yang menjadi simbol otentik transisi dari era prasejarah ke era sejarah. Yupa bukan hanya benda mati, melainkan narasi besar yang menjembatani perkembangan bahasa dan sistem politik masa lampau.
B. Mozaik Kerajaan Kuno: Dari Kutai hingga Sriwijaya
Dari bukti-bukti epigrafi dan berita asing, kita dapat merekonstruksi mozaik peradaban awal Nusantara yang terdiri dari berbagai kerajaan dengan corak dan kehebatannya masing-masing.
1. Kerajaan Kutai Martapura (Kalimantan Timur)
A. Fajar Peradaban: Jejak Awal dan Pengaruh Luar
Peradaban Nusantara tidak lahir dalam ruang hampa. Jauh sebelum prasasti pertama diukir, nenek moyang bangsa Indonesia telah mengarungi lautan dan membangun pemukiman. Memasuki abad pertama Masehi, posisi strategis Nusantara di jalur perdagangan internasional antara India dan Tiongkok membuka pintu akulturasi budaya. Para pedagang yang singgah tidak hanya membawa komoditas, tetapi juga membawa pengaruh agama, politik, dan teknologi dari peradaban besar dunia.
Pengaruh Hindu-Buddha dari India menjadi gelombang peradaban pertama yang terekam jelas. Proses ini menandai babak baru sejarah Indonesia, di mana masyarakat lokal yang semula mengenal sistem kepemimpinan suku mulai bertransformasi membentuk struktur kerajaan yang lebih kompleks.
Bukti tertulis tertua tentang keberadaan peradaban di Nusantara adalah Prasasti Yupa, yang ditemukan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Prasasti dari abad ke-4 Masehi ini ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta, menandai dimulainya periode sejarah di Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadli Zon bahkan menyebut Yupa sebagai "bukti keluhuran tertua Nusantara" yang menjadi simbol otentik transisi dari era prasejarah ke era sejarah. Yupa bukan hanya benda mati, melainkan narasi besar yang menjembatani perkembangan bahasa dan sistem politik masa lampau.
B. Mozaik Kerajaan Kuno: Dari Kutai hingga Sriwijaya
Dari bukti-bukti epigrafi dan berita asing, kita dapat merekonstruksi mozaik peradaban awal Nusantara yang terdiri dari berbagai kerajaan dengan corak dan kehebatannya masing-masing.
1. Kerajaan Kutai Martapura (Kalimantan Timur)
Sebagai kerajaan bercorak Hindu tertua, Kutai memberikan gambaran awal tentang struktur masyarakat terpelajar. Raja Mulawarman, cucu dari Kudungga, digambarkan sebagai raja yang sangat dermawan, pernah mengadakan kurban emas dan 20.000 ekor sapi untuk para Brahmana. Tradisi upacara pemujaan ini menunjukkan agama Siwa telah berkembang pesat di istana.
2. Kerajaan Tarumanegara (Jawa Barat)
Hampir sezaman dengan Kutai, di Jawa Barat berkuasa Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara (abad ke-5 M). Kehebatan peradaban Tarumanegara terukir dalam Prasasti Tugu, yang menyebutkan proyek besar penggalian Sungai Gomati dan Candrabhaga sepanjang 11 kilometer hanya dalam 21 hari. Proyek infrastruktur ini bertujuan mencegah banjir dan mengairi sawah, membuktikan bahwa teknologi hidrologi dan pengelolaan sumber daya air sudah sangat maju pada masanya. Prasasti-prasasti lain seperti Ciaruteun, yang menampilkan tapak kaki Raja Purnawarman disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu, menunjukkan konsep ketuhanan raja (devaraja) telah dikenal.
3. Kerajaan Sriwijaya (Sumatera)
Beralih ke abad ke-7 hingga ke-13, muncullah penguasa maritim terbesar di Asia Tenggara: Sriwijaya. Berpusat di Palembang, kerajaan ini menguasai jalur perdagangan Selat Malaka yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan. Namun, kejayaan Sriwijaya tidak hanya diukur dari luasnya wilayah, melainkan juga sebagai pusat pembelajaran agama Buddha Mahayana. I-Tsing, seorang biksu dari Tiongkok, mencatat bahwa banyak biksu yang tinggal di Sriwijaya selama bertahun-tahun untuk menerjemahkan kitab suci dan belajar bahasa Sanskerta sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Penguasaan jalur laut ini juga menghubungkan Nusantara dengan Kepulauan Rempah-Rempah di Maluku, menunjukkan jaringan ekonomi yang sangat luas.
4. Kerajaan Kalingga (Jawa Tengah)
Di pesisir utara Jawa Tengah, berdiri Kerajaan Kalingga (Holing) pada abad ke-7. Kerajaan ini terkenal karena kepemimpinannya yang tegas di bawah Ratu Sima. Rakyatnya dikenal sangat jujur karena peraturan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Catatan dari Tiongkok juga menyebutkan bahwa pendeta Buddha dari Tiongkok datang ke Kalingga untuk menerjemahkan kitab suci agama Buddha.
C. Puncak Kejayaan: Sinkretisme dan Warisan Abadi
Peradaban Nusantara mencapai puncaknya pada era Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dan kemudian dilanjutkan oleh Majapahit di Jawa Timur.
Mataram Kuno (abad ke-8 hingga ke-10) mewariskan monumen peradaban yang tak tertandingi: Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia, dibangun oleh Wangsa Syailendra dengan arsitektur yang mencerminkan kosmologi Buddha. Relief-reliefnya yang dipahatkan pada dinding candi bukan sekadar cerita agama, tetapi juga "buku" yang merekam kehidupan masyarakat, kapal dagang, dan aktivitas keseharian pada masa itu.
Sementara itu, Majapahit (abad ke-13 hingga ke-16) di bawah Mahapatih Gajah Mada berhasil menyatukan hampir seluruh Nusantara dalam Sumpah Palapa-nya. Karya sastra agung seperti Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca menjadi bukti tingginya tradisi intelektual dan literasi. Naskah ini tidak hanya menceritakan kebesaran Raja Hayam Wuruk, tetapi juga menggambarkan struktur pemerintahan, hukum, dan wilayah kekuasaan Majapahit.
Kearifan lokal juga terpelihara dalam berbagai manuskrip kuno, seperti koleksi lontar dan serat di Museum Sonobudoyo. Naskah-naskah ini mencakup ajaran moral, pengobatan tradisional, hingga primbon, menunjukkan bahwa literasi dan sistem pengetahuan telah mengakar kuat di masyarakat.
D. Kontroversi dan Narasi Alternatif
Meskipun narasi sejarah umum menempatkan Kutai dan Tarumanegara sebagai yang tertua, terdapat sumber lain yang menawarkan perspektif berbeda. Naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta pada abad ke-17 menyebutkan adanya Kerajaan Salakanagara di Jawa Barat yang berdiri jauh sebelumnya, sekitar abad ke-2 Masehi.
Menurut naskah ini, Salakanagara adalah kerajaan perintis yang kemudian berkembang menjadi Tarumanegara. Tokoh-tokohnya, seperti Dewawarman, disebut sebagai duta dari India yang menikahi putri kepala lokal. Meskipun kontroversial dan belum sepenuhnya diterima oleh para sejarawan karena kurangnya bukti arkeologis yang kuat, naskah Wangsakerta membuka wawasan tentang kompleksitas dan kemungkinan adanya lapisan peradaban yang lebih tua dari yang selama ini kita kenal.
Kesimpulan
Peradaban Nusantara adalah bukti nyata bahwa bangsa ini bukan sekadar penonton dalam arus sejarah dunia. Sejak abad ke-4, nenek moyang kita telah membangun tatanan negara yang terstruktur, mengembangkan teknologi pengairan yang maju, menguasai jalur perdagangan internasional, dan menjadi pusat pembelajaran agama. Kehebatan ini lahir dari kemampuan luar biasa dalam mengadaptasi pengaruh luar (seperti Hindu-Buddha dari India) dan mengolahnya dengan kearifan lokal, melahirkan sinkretisme budaya yang unik dan agung.
Warisan ini bukan hanya kebanggaan masa lalu, tetapi fondasi untuk membangun peradaban Indonesia di masa depan. Upaya digitalisasi prasasti seperti Yupa dan naskah-naskah kuno adalah langkah penting untuk menjaga memori kolektif ini agar tidak lenyap ditelan zaman.
